Cpx24.com CPM Program Cpx24.com CPM Program

Our Presence

Need for information makes me inspired to create something that could be useful .. We are here to provide iformasi that may be useful.

Traffic, Income, Profit

Go to Blogger affan-personalweb

This is default featured post 3 title

Go to Blogger Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

This is default featured post 4 title

Go to Blogger Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Lifestyle

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

S E O

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Relationship

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Adsense

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Competition

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Tampilkan postingan dengan label Spiritualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritualitas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

SUDIKAH ANDA UNTUK MEMAAFKAN??


Cinta Kasih dan Memaafkan

Memang sangat sulit untuk memaafkan. Banyak dari kita yang mempunyai kendala dalam memaafkan perbuatan seseorang terhadap diri kita. Dikhianati, difitnah, dianiaya, dibohongi, dicaci, ditipu, dan sebagainya dan sebagainya
merupakan alasan-alasan yang membuat kita sulit untuk memaafkan orang lain.Tetapi maukah Anda mulai sekarang memberi maaf? Walau bagaimanapun sakitnya, siapkah Anda memberi maaf?

Selain itu, apakah kita perlu sebuah alasan untuk memaafkan seseorang?
Apakah kita harus mengetahui dulu apa kesalahan seseorang baru kita dapat memberikan maaf terhadap orang itu?
Atau bahkan bisa saja kita memberi maaf dan malahan sebaliknya meminta maaf kepada orang, tanpa adanya alasan apapun...

Pilihan tentu saja ada pada Anda sendiri…………

Apapun pilihan anda mungkin ada satu cerita menarik dari Dr. Joe Vitale, yang merupakan seorang ahli marketing-termasuk salah satu dari lima marketing spesialis didunia saat ini, penulis buku-buku marketing dan hipnotis, seorang hipnoterapis, ahli metafisika, dan pengarang berbagai buku yang terkenal dan sebagainya.

Joe Vitale menceritakan bahwa beberapa tahun sebelum ia mengenal sendiri terapi penyembuhan yang berasal dari Hawaii, ia telah mendengar bahwa ada seorang terapis di
Hawaii yang menyembuhkan seluruh pasien dari sebuah bangsal khusus di rumah sakit yang semuanya kriminal berbahaya dan mengalami gangguan jiwa. Ia dapat menyembuhkan pasien-pasiennya itu hanya dengan melihat data-data pasiennya dan melihat kedalam dirinya, untuk melihat bagaimana ia berhubungan dengan sakitnya
pasien-pasien tersebut. Semakin dia memperbaiki dirinya, semakin banyak pasiennya yang sembuh.

Saat pertama kali mendengarnya, Joe Vitale menyangka bahwa itu hanyalah sebuah legenda belaka. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, bagaimana orang dapat menyembuhkan orang dengan menyembuhkan dirinya sendiri? Bagaimana bisa seorang ahli pengembangan diri atau terapis yang sangat ahli sekalipun dapat menyembuhkan
pasien kriminal berbahaya yang mengalami gangguan jiwa?
Tidak masuk akal dan tidak logis baginya. Ia segera mengenyampingkan cerita-cerita itu.

Setahun kemudian ia mendengar kembali cerita-cerita itu. Ia mendengar bahwa terapis itu menggunakan sebuah sistem penyembuhan Hawaii yang dikenal sebagai “ho ‘oponopono“.
Ia sampai saat itu tidak pernah mendengar proses penyembuhan tersebut, tetapi entah mengapa, ia tak dapat melepaskan rasa penasarannya akan proses itu.  Ia mengatakan pada dirinya bahwa bila ceita-cerita itu benar, dia harus mengetahuinya lebih lanjut.

Ia tahu apa yang dinamakan dengan “tanggung jawab penuh”.  Yang berarti bahwa apapun yang ia lakukan dan pikirkan adalah tanggung jawab dia, dan diluar itu adalah
tidak lagi merupakan tanggung jawab dia. Ia juga yakin bahwa pasti sebagian besar orang akan berpikir demikian dengan apa yang disebut sebagai “tanggung jawab penuh”. Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, tidak terhadap apa yang dilakukan orang lain.  Rupanya terapis yang menggunakan sistem penyembuhan dari Hawaii itu kan memberikan pandangan atau persepsi yang baru mengenai “tanggung jawab penuh” ke Joe Vitale.

Nama terapis itu adalah  Dr. Ihaleakala Hew Len. Joe Vitale dan terapis itu menghabiskan waktu lebih dari satu jam saat pertama kali Joe Vitale menelepon. Ia meminta terapis
Hawaii itu untuk menceritakan secara detail semua cara kerjanya sebagi terapis. Terapis itu menceritakan bahwa ia bekerja selama empat tahun di Hawaii State Hospital. Penghuni bangsal khusus yang ditanganinya adalah pasien-pasien kriminal yang berbahaya.

Psikolog-psikolog sebelum dia mengundurkan diri setiap bulan. Staf dan pekerja di bangsal khusus itu sering minta libur dan akhirnya minta berhenti. Orang-orang yang
terpaksa harus melewati bangsal khusus itu berjalan dengan punggung menempel ke dinding menjauh dari bangsal itu, karena takut diserang oleh pasien-pasien. Tempat itu
bukan merupakan tempat yang nyaman untuk hidup, kerja atau berkunjung.

Dr. Len mengatakan bahwa ia tak pernah melihat secara langsung pasien-pasiennya. Ia setuju untuk untuk mempunyai sebuah ruang kantor dan meneliti dan mempelajari data-
data dari pasien. Selama ia melihat dan mempelajari data-data pasiennya ia juga akan kerja pada dirinya sendiri. Semakin dia bekerja pada dirinya sendiri, secara perlahan,
pasien-pasiennya mulai sembuh.

Ia mengatakan kepada Joe Vitale bahwa setelah beberapa bulan, pasien yang harus diikat atau dikurung, diperbolehkan berjalan dengan bebas, yang sedang dalam proses pengobatan, bebas dari obat-obat, dan mereka yang sebelumnya nampak tidak akan ada harapan untuk bebas, akhirnya mulai dibebaskan.

Mendengar itu, Joe Vitale terkesima….

Selanjutnya Dr. Len menyatakan bahwa para staf dan pekerja mulai senang datang bekerja. Absen bekerja mulai hilang dan pergantian personil karena pengunduran diri
menghilang dan malahan staf melebihi dari yang dibutuhkan karena banyak pasien yang telah dilepas. Dan saat ini bangsal khusus itu telah ditutup.

Setelah mendengar dengan seksama penjelasan Dr. Len, akhirnya Joe Vitale menanyakan pertanyaan senilai sejuta dolarnya, yaitu:

“Apa yang anda lakukan terhadap diri sendiri yang menyebabkan orang lain dapat berubah?”

“Saya hanya menyembuhkan bagian dari saya yang menciptakan mereka” jawab Dr. Len Joe Vitale bingung dan tak mengerti.

Dr. Len menjelaskan ke Joe Vitale, bahwa tanggung jawab penuh terhadap hidup anda adalah bertanggung jawab terhadap semua yang ada dalam hidup anda, karena semua itu ada dalam kehidupan anda - tanggung jawab anda.

“Waoouuw…. cara berpikir yang sulit untuk diterima.” demikian Joe Vitale berkata kepada dirinya sendiri. “Bertanggung jawab terhadap apa yang aku lakukan dengan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan semua orang yang ada dalam kehidupanku adalah dua hal yang berbeda”. demikian Joe Vitale mengatakan kepada dirinya sendiri.

Tapi sebenarnya, menurut dia: bila anda mengambil tanggung jawab penuh terhadap kehidupan anda, ini berarti  bahwa apa yang anda lihat, dengar, rasa, sentuh atau apapun
pengalaman anda, adalah tanggung jawab anda, karena ada dalam kehidupan anda. Ini berarti bahwa, aktivitas teroris, pemerintah, ekonomi, politik dan sebagainya yang
anda senang atau tidak, adalah ada pada anda untuk penyembuhannya. Mereka tidak ada, kecuali karena proyeksi dari pikiran dalam diri anda sendiri. Masalah bukan ada pada mereka, tetapi ada dalam diri anda. Dan untuk memperbaiki atau menyembuhkannya anda harus menyembuhkan anda sendiri.

Joe Vitale mengatakan bahwa memang sangat sulit untuk mengerti dan menerima pendapat ini, apalagi menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Karena menyalahkan
lebih mudah dari tanggung jawab penuh. Tapi setelah berbicara dengan Dr. Len, Joe Vitale menyadari bahwa cara penyembuhan yang dilakukan Dr. Len dengan sistem
ho ‘oponopono adalah dengan cara menyayangi diri sendiri. Bila anda ingin mengembangkan dan memperbaiki hidup anda, anda harus menyembuhkan diri anda sendiri. Bila anda ingin menyembuhkan orang lain - kriminal yang sakit jiwa sekalipun - anda melakukannya dengan menyembuhkan anda sendiri.

Joe Vitale menanyakan pada Dr. Len bagaimana caranya ia menyembuhkan dirinya sendiri, apa sebenarnya yang ia lakukan saat melihat data pasien-pasiennya?

“Saya hanya mengucapkan, ‘Saya minta maaf’ dan ‘Saya mencintai anda’ berulang kali” jawab Dr.Len

Hanya itu?

Ya, hanya itu…..

Rupanya mencintai diri anda sendiri adalah cara terbaik untuk mengembangkan diri anda seutuhnya. Dan saat anda berkembang, dunia sekitar anda juga berkembang. Joe Vitale memberi suatu contoh sederhana sebagai berikut :
Pada suatu hari ia menerima sebuah email yang berisi kalimat-kalimat yang membuat ia marah dan kecewa. Sebelumnya ia selalu menggunakan emosi dan amarahnya untuk merespon email-email seperti itu. Ia akan coba menjawab email seperti itu untuk mencari kebenaran. Tapi pada email ini, ia coba menuruti apa yang telah dikatakan oleh Dr. Len.

Ia dalam hati mengatakan “Saya minta maaf” dan “Saya mencintai anda”. Joe tidak mengatakannnya terhadap seseorang atau menuju seseorang. Ia hanya menimbulkan
spirit cinta untuk menyembuhkan dirinya dari dalam dirinya sendiri, untuk apa yang ada diluar dirinya.

Dalam sejam Joe Vitale menerima email dari orang yang sama, yang sebelumnya mengirim email yang menyakitkannya. Orang itu meminta maaf atas semua kalimat
dalam emailnya. Joe Vitale mendapatkan maaf tanpa meminta kepada orang tersebut dan tidak membalas emailnya. Tapi hanya dengan berkata ” Saya mencintai anda”, ia menyembuhkan dirinya sendiri yang menyebabkan tindakan orang yang mengirim email tersebut.

Setelah itu Joe Vitale menghadiri workshop ho ‘oponopono oleh Dr. Len yang telah berusia 70 tahun, dan dapat dilihat sebagai figur seorang kakek yang sederhana. Ia memuji buku
Joe Vitale “Attractor Factor”. Ia mengatakan bahwa semakin Joe mengembangkan dirinya, semakin vibrasi bukunya akan meningkat dan orang akan merasakannya saat membaca
buku itu. Secara singkat bila Joe berkembang, pembacanya juga akan berkembang.
Joe menanyakan “Bagaimana dengan buku yang telah terjual?” Dr Len hanya menjawab dengan bijaksana “Buku-buku itu tak ada diluar sana”, yang membuat Joe Vitale kembali bingung. “Mereka masih tetap ada dalam dirimu sendiri” lanjut Dr. Len. Secara singkat Dr. Len mengatakan bahwa tidak ada yang dinamakan diluar sana.
Menurut Joe Vitale, akan memerlukan satu buku tersendiri untuk menjelaskan teknik ho ‘oponopono ini. Tapi yang penting adalah bahwa bila kita ingin mengembangkan diri kita
dalam hal apapun, hanya ada satu tempat untuk melihat:

Dalam diri anda sendiri…………….

Bila anda melihat lakukanlah dengan cinta…………..

Selajutnya menurut Joe, pesan Dr. Len, mungkin sangat sulit untuk diterima, tapi sebenarnya sangat sederhana. Dr. Len mengatakan bahwa kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lihat didunia. Dengan mengambil tanggung jawab penuh dan kemudian menyembuhkan bagian yang sakit dalam diri kita, kita dapat menyembuhkan diri sendiri dan dunia sekitar kita.

Joe mengatakan bahwa Dr. Len menganjurkan empat langkah dalam proses ini. Saat ada kesempatan untuk menyembuhkan diri anda sendiri, bukalah bagian yang sakit dalam diri anda, ucapkan dan rasakan secara penuh empat kalimat dibawah ini :

Saya mencintai anda
Saya minta maaf
Saya mohon maaf setulus tulusnya
Terima kasih


Demikian cerita singkat dari Joe Vitale……..

Sudikah Anda untuk Memaafkan?????????????

PETUNJUK ATAU SINYAL SEALU ADA DISEKITAR KITA


Mengembangkan tingkat kesadaran dalam kehidupan sehari-hari

Dalam realitas kehidupan kita sehari-hari, banyak sekali sinyal atau petunjuk dari Tuhan yang Maha Kuasa terhadap diri kita masing-masing yang berguna untuk proses pengembangan diri . Petunjuk atau sinyal ini sering terlewatkan begitu saja oleh kita.

Ada sebuah cerita menarik yang saya alami beberapa saat yang lalu.  Cerita ini terjadi saat  pertemuan dengan teman lama saya, kita sebut saja sebagai ibu Yanti, di disebuah restoran di mall dibilangan Jakarta Selatan.  Pertemuan antara dua teman dan keluarganya yang telah sekian lama tidak bertemu tentu biasanya membawa banyak cerita. Mengenai kerjaan, anak-anak dan cerita mengenai teman-teman lama lainnya yang sudah jarang bertemu.

Tetapi dari semua nostalgia dan cerita-cerita itu, entah mengapa ada sebuah cerita, yang  selalu diulang-ulang oleh ibu Yanti, yaitu mengenai pembantu setianya, sebut saja sebagai mbok Ipeh. Pembantu ini bertahun-tahun telah menemani mereka, sejak mereka baru menikah.  Walaupun sangat setia dan pekerja keras, ada satu hal yang kurang mereka senangi dari mbok Ipeh tersebut. Ia sering mengeluh.

Ibu Yanti menceritakan (berkali-kali dan dengan semangat) bahwa mboknya tersebut mengeluh dalam hal apapun, bisa mengeluh dalam hal yang kecil maupun yang besar. Misalnya saat ibu Yanti pulang belanja dan membawa bonus sabun ukuran kecil, mbok Ipeh menerimanya dengan ngedumel sambil berkata “itu toko, ngasih hadiah kok kecil begini…pelit amat”. Atau pada saat lainnya, saat kucing peliharaan ibu Yanti walaupun telah membuang kotoran ditempat yang telah ditentukan, mbok Ipeh masih aja mengeluh dan ngedumel bahwa kotoran kucing itu, beginilah, begitulah dsb. Atau pada saat lainnya, saat ibu Yanti membeli makanan, mbok Ipeh sering mengeluh bahwa makanan yang baru dibeli tersebut kurang enak dan sebagainya, dan sebagainya…..

Sebenarnya cerita-cerita tersebut diatas sering terdengar dan terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dan kami sekeluarga hanya tersenyum mendengarkan saja.

Tetapi akhirnya saya harus menjawab saat ibu Yanti bertanya langsung kepada saya,
“Bagaimana tuh? kesal deh aku, ada cara ngga ya mengurangi sifat si mbok?”,terpaksa saya memberikan jawaban,
 ”Kamu sedang apa barusan?”
“Ya…cerita mengenai mbok ku…piye sih??” jawab ibu Yanti dengan agak kesal.
“Cerita atau ngeluh?” tanya saya padanya
“Hmmmmm…..cerita, tapi, ngeluh juga ya….hahahahaha” jawab ibu Yanti sambil memukul kepalanya sendiri.

Selanjutnya saya mencoba menerangkan kepada ibu Yanti bahwa kita harus selalu coba melihat signal dan mawas diri. Mbok Ipeh dengan kepribadian-sifatnya, yang selalu ada dalam realita kehidupan diri ibu Yanti selama ini, dengan sadar atau tidak sadar merupakan buatan Ibu Yanti sendiri, ia yang menarik mbok Ipeh dalam kehidupannya., dan mbok Ipeh bisa merupakan refleksi atau cerminan dari ibu Yanti sendiri. Mbok Ipeh bisa saja merupakan petunjuk atau sinyal bagi ibu Yanti untuk mawas diri dan melihat kedalam dirinya sendiri. Ibu Yanti tanpa sadar bisa saja adalah seorang pengeluh juga.

Menjawab pertanyaan teman kami mengenai mbok Ipeh, akhirnya saya hanya dapat memberi masukan agar terus mengingatkan mbok Ipeh untuk tidak mengeluh dan selalu bersyukur.

Selanjutnya saya katakan kepada ibu Yanti, bahwa yang lebih penting adalah agar dirinya yang harus selalu bersyukur menerima keadaan, apapun dan bagaimanapun bentuknya. Dengan selalu bersyukur, dia akan, saat itu juga menghilangkan keluhan-keluhan yang ada dalam dirinya.

Bersyukur merupakan senjata paling ampuh dalam meningkatkan energi positif dan kesadaran dalam kehidupan kita.

Dan tentu saja yang paling menarik dari peristiwa itu adalah, bahwa selain mbok Ipeh merupakan sinyal buat ibu Yanti, kami sendiri juga mendapat sinyal dari Ibu Yanti.
Ia merupakan sinyal bagi saya sendiri, atau juga mungkin buat anggota keluarga saya yang sedang berada saat pertemuan itu dan mendengarkan Ibu Yanti bercerita..

Mungkin kami juga masih sering mengeluh atau masih kurang kesadarannya untuk selalu bersyukur. Dengan adanya Ibu Yanti, kami mendapatkan sinyal untuk menambah kesadaran kami akan sifat-sifat yang perlu diperbaiki tersebut.

Masih banyak cerita-cerita sederhana yang terjadi disekitar kehidupan kita sehari-hari. Dan anda seperti halnya saya, pasti sering mengalaminya. Tetapi mungkin saya dan anda sering melewatkan saja kejadian sederhana yang sebenarnya mungkin membawa petunjuk atau sinyal buat pengembangan diri kita.
Biasanya kita lebih mudah untuk mengenali sinyal atau petunjuk Tuhan yang bersifat lebih “heboh” dan melewatkan sinyal yang nampak sederhana menurut persepsi kita.

Tapi sinyal adalah tetap sinyal, petunjuk adalah tetap petunjuk, baik itu sederhana ataupun heboh. Yang diperlukan adalah meningkatkan awareness atau kesadaran kita terhadap petunjuk atau sinyal itu. Kita harus lebih peka untuk mendengar dan merasakan, dan menerimanya sebagai sebuah input dalam proses untuk meningkatkan diri kita dalam menikmati pengalaman hidup yang sedang kita jalani ini.

MENINGKATNYA LEVEL OF CONSCIOUNESS ATAU TINGKAT KESADARAN


Memahami Spirit untuk Menaikkan Kesadaran

Buku-buku  seperti Alchemist dan Power of Now, menjadi bacaan yang sangat digemari belakangan ini. Kedua buku tersebut pada mulanya kurang diminati. Saat diluncurkan keduanya hanya terjual beberapa ratus eksemplar saja. Bahkan buku Power of Now karangan Ekhardt Tolle, menurut pengarangnya sendiri, saat pertama diluncurkan, tahun 1998, menyapa pembacanya melalui mulut ke mulut dan Ekhardt mengantar sendiri beberapa eksemplar bukunya ke toko-toko kecil di Vancouver, Kanada. Dan ketika Oprah Winfrey terpengaruh oleh buku tersebut, pertumbuhan penjualannya pun meledak.

Demikian juga buku Alchemistnya Paulo Coelho. Saat pertama diluncurkan, sangat sepi peminat. Tapi sejak tahun 2003, buku tersebut laris manis bak pisang goreng.

Selain kedua buku tersebut, buku-buku lainnya seperti Journey of the Soul, Conversation with God, dan sebagainya, yang berhubungan dengan masalah spiritualitas dan tingkat kesadaran, juga menjadi buku-buku populer yang sangat diminati.

Mengapa buku-buku tersebut baru belakangan ini begitu diminati? Apakah ini tanda bahwa level of consciousness atau tingkat kesadaran dari umat manusia belakangan ini semakin meningkat ?

Digemarinya buku-buku, situs-situs di net, seminar, workshop dan sebagainya mengenai masalah spiritual atau tingkat kesadaran, bersamaan waktunya dengan perkembangan pesat yang terjadi pada teknologi, terutama teknologi informasi.

Perkembangan teknologi informasi mau tidak mau menyebabkan banyak terjadinya perubahan sosial pada kehidupan manusia sehari-hari. Kecepatan  mengakses informasi, kerbukaan, semakin sempit/menyatunya dunia dan sebagainya, membuat perubahan pada gaya hidup manusia.

Selain perkembangan pesat teknologi informasi, bumi dimana kita diami ini juga terlihat semakin sering mengalami  bencana-bencana alam. Kita dapat perhatikan bahwa bumi juga berubah, semakin banyak gempa bumi, angin topan, tsunami, banjir dsb.

Manusia terus berubah, bumi juga terus berubah. Perubahan memerlukan penyesuaian diri. Manusia mempunyai sistem penyesuaian alami untuk menghadapi setiap perubahan gaya hidup ini.  Kesadaran dalam diri manusia dan alam akan “memaksa” manusia untuk menyesuaikan diri agar terjadi keseimbangan dalam kehidupan. “Pemaksaan” alamiah ini dapat berupa bermacam macam hal. Seperti  misalnya kegiatan dalam pendekatan terhadap yang Maha Kuasa, meditasi, berzikir, perawatan tubuh, yoga dan sebagainya. Ini adalah jawaban manusia yang terjadi secara alami untuk menghadapi perubahan cepat ini.

Perubahan pada teknologi yang kita sebut sebagai ‘high tech” tentu saja pada satu sisi sangat menguntungkan. Tapi pada sisi lainnya pasti ada negatifnya.

Tetapi, apa artinya high tech kalau tidak ada low tech? Apa artinya malam kalau tidak ada siang? Salah satu sifat alami dari manusia untuk mengimbangi perkembangan pesat yang terjadi pada kehidupan manusia di jaman informasi, dan perubahan pada bumi ini, datang dari dalam diri kita sendiri. Dan hal ini yang berhubungan dengan masalah spiritual, dan mungkin, spiritual ini adalah jawaban dari  high tech yaitu low tech dan ini ada dalam diri kita sendiri.

Bicara mengenai spiritual, tulisan ini tak berniat nampak seperti seorang kiai atau pendeta atau apapun yang sedang ”diskusi” agama. Tetapi hanya berbicara mengenai mengenai diri kita sendiri.

Spiritual berasal dari kata spirit. Spirit memberikan antusiasme, sangat berpengaruh dan ia hidup. Spirit adalah semangat dan spirit itu hidup, ia juga merupakan sebuah entitas.

Spirit adalah energi. Spirit dapat berkomunikasi. Berkomunikasi dengan spirit adalah SPIRIT-UAL.

Dalam pengembangan diri kita untuk meningkatkan level of consciousness atau tingkat kesadaran, spiritual adalah hal yang penting. Spiritual adalah cara kita berhubungan dengan diri kita sendiri…diri kita yang seutuhnya atau dikenal sebagai higherself atau wholeself kita.

Sebagai seorang manusia yang telah menjalani proses kehidupan, diri kita tidak utuh lagi, kita telah terfragmentasi oleh pengalaman dalam kehidupan, trauma, ajaran dan sebagainya. Diri kita yang “terfragmentasi” ini, yang menyebabkan depresi, kesedihan dan kemarahan.Untuk kembali ke diri kita yang seutuhnya, kita harus re-fragmentasi diri kita.

Kita dapat kembalikan atau re-fragmentasidiri kita kembali ke seutuhnya, hanya dengan kesadaran melalui proses spiritual. Spiritual adalah sebuah proses, sebuah proses perjalanan….menuju kesadaran.

Apakah kegemaran membaca buku-buku, mengikuti seminar dan workshop mengenai pengembangan diri, yang berhubungan dengan spiritual belakangan ini adalah jawaban alami dari manusia untuk perubahan-perubahan cepat yang sedang terjadi? Apakah memang betul tingkat kesadaran kolektif manusia sedang meningkat terus?

Jawabannya ada dalam diri anda sendiri......

MENGUBAH SIKAP ORANG LAIN MELALUI HUKUM ATRAKSI


Aplikasi Hukum Atraksi di Pekerjaan

Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa hidup kita adalah kenyataan yang kita ciptakan di pikiran. Benarkah? Emosi dan pikiran kita seperti roll film yang berputar 24 jam sehari menayangkan cerita yang kita buat sendiri. Kita sebagai sutradara, sekaligus pemeran utama, menciptakan kenyataan yang melibatkan orang-orang dan situasi di sekeliling kita. Lantas, apakah mungkin secara sadar kita mengubah sikap orang lain melalui pemikiran dan emosi kita?

Mari kita bahas hal ini melalui aplikasi hukum atraksi atau Law of Attraction .

Pertama, yang ingin kita pahami adalah kita bisa mengubah sikap orang lain melalui persepsi kita sendiri. Contohnya, apabila Anda mempunyai rekan kerja yang suka marah-marah dan tidak bisa diajak kerjasama, kemungkinan besar Anda ingin mengubah perilakunya sehingga suasana kerja Anda bisa menyenangkan.

Satu hal yang ingin Anda ingat adalah setiap orang dan kejadian yang melintas dalam kehidupan Anda merupakan gambaran dari pikiran dan emosi Anda. Secara sadar ataupun tidak, Anda menarik mereka melalui pemikiran yang berjalan terus menerus, baik itu berupa pemikiran saat ini (present) ataupun pemikiran masa lalu (past).

Anda tidak perlu mencari tahu tepatnya kapan atau mengapa rekan kerja Anda yang menyebalkan ini termanifestasi dalam kenyataan. Hal ini sudah terjadi dan Anda menjadi sadar untuk mengubah kenyataan dengan mengganti persepsi dalam diri Anda sendiri.

Membayang-bayangkan rekan kerja Anda ini tiba-tiba berubah menjadi manis sikapnya tentunya tidak akan menyelesaikan masalah. Anda ingin mengubah sikap seseorang melalui kenyataan yang Anda ciptakan. Melalui teknik visualisasi Anda bisa mengubah persepsi tentang orang ini dalam kehidupan Anda.

Caranya?

Anda akan praktekkan teknik visualisasi disini. Ada beberapa langkah yang Anda bisa ikuti dan yang paling penting adalah rileks, tenang, dan nyaman dalam melakukannya:
  1. Cari tempat yang nyaman dan tidak ada gangguan.
  2. Anda bisa berbaring atau duduk dengan tenang
  3. Tutup mata dan tarik nafas pelan-pelan
  4. Anda rileks dan pikiran Anda nyaman.
  5. Semakin rileks dan Anda masuk lebih dalam ke visualisation mode.
  6. Disini Anda fokus ke solusi yang Anda ingin dapatkan, bukan konsentrasi ke masalah yang sedang terjadi.
  7. Visualisasikan diri Anda berada ditempat kerja bersama rekan Anda itu. Sambil mengerjakan tugas bersama dan menikmati kebersamaan. Lakukan ini di present moment.
  8. Buat visualisasi ini senyata mungkin. Lengkap dengan perasaan Anda disertai gambar-gambar dan suara-suara.
  9. Anda bisa tersenyum atau bahkan tertawa. Lakukan ini semua di present moment.
Esoknya setelah Anda kembali ke tempat kerja, Anda tetap membawa suasana yang Anda ciptakan di saat visualisasi. Jangan bereaksi apabila rekan kerja Anda mulai menampakan sikap-sikap menyebalkan. Anda tetap fokus dan selalu berada di present moment. Kenapa? Karena apabila Anda bereaksi maka Anda secara otomatis fokus ke ”apa yang Anda tidak mau”. Apabila Anda kesulitan untuk “memanggil” gambar dari visualisasi, Anda masuk ke neutral mode. Artinya Anda tidak marah dan juga tidak antusias berlebihan. Anda ingin energi Anda tetap tersimpan dan tidak bocor sehingga Anda berada dalam harmoni dengan alam semesta.

Hasilnya?

Ada dua kemungkinan. Pertama, rekan kerja Anda akan menyadari kesalahan dalam berkomunikasi dan melakukan perbaikan atau bahkan dia bisa menjadi sahabat Anda. Kemungkinan yang kedua adalah emosi Anda terhadap dia menjadi netral. Artinya Anda tidak perduli lagi dengan sikap apapun yang dia lakukan. Gambar dia dalam film Anda menjadi buram atau bahkan hilang sama sekali.

Manusia, sebagai energi, selalu bergetar atau bervibrasi. Getaran ini memiliki tingkatan atau rate. Semua orang yang hadir dalam film kehidupan kita bervibrasi dalam rate yang sesuai. Apabila rekan kerja Anda tidak bervibrasi dengan rate yang sesuai, maka dia akan meninggalkan realitas Anda. Bentuknya bisa macam-macam, entah dia menjadi tidak punya peran lagi dalam hidup Anda atau ada kemungkinan dia keluar dari pekerjaannya.

Ketika Anda fokus ke solusi dan Anda tahu bahwa itu akan terjadi, Anda tidak ingin membuang energi untuk hal-hal yang negatif tentang rekan kerja Anda ini. Alam semesta akan membawa apa saja yang Anda fokuskan, tanpa kecuali.
Apapun yang Anda lalukan melalui Law of Attraction akan membawa hasil yang Anda inginkan atau bahkan lebih baik. Alam semesta bekerja dengan prinsip ini. Fokus dengan kedamaian dan konsentrasi di present moment akan membawa rasa syukur, suka cita, dan Anda akan memperoleh itu semua dalam kenyataan yang Anda ciptakan.

LIFE IS A GAME

Play,... Enjoy

Apa makna hidup ini untuk anda?  Macam-macam ya?  Mungkin anda memaknainya sebagai perjuangan, belajar, ibadah, dan sebagainya.  Semua itu tentu sah-sah saja.  Yang penting masih di dalam koridor kebaikan.

Memaknai hidup secara definitif sangat penting bagi kita.  Dengannya kita akan menjalani hidup itu dengan kejelasan.  Tujuan yang jelas.  Arah yang jelas.  Aturan yang jelas.  Proses yang jelas.  Meski demikian, kita tidak akan kehilangan fleksibelitas, warna dan variasi dalam hidup.

Tulisan ini memberikan alternatif makna hidup itu tanpa mesti mengesampingkan makna hidup yang anda yakini sekarang.  Alternatifnya yaitu: “Life is a game.  Hidup adalah permainan”. 

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata ‘games’?  Mungkin Play Station, menyenangkan, asyik, games di computer, level, hadiah, menang, kalah, bisa diulang, dan sebagainya.  Nah, hidup ternyata banyak sekali kesamaannya dengan permainan di Play Station itu.

Jadi, ketika anda memaknai hidup anda sebagai permainan, maka anda sadar bahwa:

* Anda dapat menikmati hidup anda, apapun yang terjadi.  

Susah senang bisa anda nikmati.  Menikmati kesenangan tentu sudah biasa, tapi menikmati kesusahan?  Nah, di situlah letak keasyikan permainan hidup ini.

* Anda dapat mengulang hidup anda.  

Memperbaiki kesalahan-kesalahan tanpa terbebani olehnya.  Karena kesalahan adalah hasil tindakan.  Dan tindakan adalah muara dari bergeraknya potensi-potensi anda.  Jadi, apa salahnya dengan kesalahan?  Ia sudah terjadi.  Jangan menyalahkan kesalahan.  Tak ada gunanya.

* Anda berada di suatu level permainan tertentu dengan berbagai masalah dan tantangannya.  

Dengan terus main, anda akan dapat melewati level itu dan memasuki level baru yang lebih mengasyikkan.

* Semua orang di dunia ini adalah kawan-kawan anda.  

Anda akan menemukan bahwa sebenarnya orang-orang di sekitar anda – apakah mereka baik atau buruk sikapnya – adalah kawan main dalam game of life anda. Mau kah anda main sepak bola tanpa lawan?  Dengan lawan yang sepadan, permainan akan menggairahkan.  Karena itu, pada hakikatnya semua orang adalah kawan ‘main’ anda.

* Anda terbebas dari semua ketakutan yang tidak perlu.  

Dengan menjadi pemain dalam game of life, mengalami hal-hal yang misterius (hal-hal yang  tadinya anda takuti) jauh lebih berharga dari kehilangan hal-hal yang anda miliki.  Dan untungnya, gairah untuk main itu justru membuat hal-hal yang ditakutkan itu tidak terjadi.

* Anda bisa dengan lebih mudah memperoleh hal-hal yang anda inginkan.

Dengan menjadi pemain dan terlepas dari ketakutan, anda membebaskan potensi-potensi anda.  Anda mengaktifkan salah satu law of life yang sangat kuat yaitu, The Law of Attraction, Hukum Tarik Menarik.  Anda pun bisa focus pada hal yang anda inginkan, bukan hal yang menghalanginya.  Dan ketika anda focus pada keinginan anda, anda memusatkan sumberdaya anda padanya.  Anda kembali mengaktikan Law of Life lain :  The Law of Action.  Inilah juga yang membuat keinginan itu lebih mudah anda dapatkan.

* Anda bisa hidup penuh ketenangan. 

Anda sadar anda adalah pemain yang sebenarnya tak punya apa-apa.  Anda hanya diberi hak untuk bermain.  Orang yang tak punya apa-apa tidak akan kehilangan apa-apa.  Inilah anugerah yang luar biasa dari Yang Maha Kuasa.  Tidak punya apa-apa, tapi boleh main dan menikmatinya.   Wow…

* Ada aturan-aturan main yang justru membuat anda bebas.

Ada aturan dalam setiap permainan, termasuk permainan hidup.  Aturan ini ada agar para pemain bisa bebas bermain.  Tanpa aturan, pada hakikatnya tidak ada kebebasan.

* Anda menjadi pemain, bukan korban permainan.  

Dengannya anda betul-betul bisa memegang kendali atas hidup anda.  Berbeda dengan orang-orang yang tidak menjadi pemain.  Mereka seperti robot yang tak punya kendali atas diri mereka sendiri.   Mereka dikendalikan oleh tiga hal : orang lain, hal-hal yang mereka miliki dan hal-hal yang terjadi pada diri mereka.  Para pemain sebaliknya.

Karena itu, jadilah pemain.  Ambil keputusan tegas untuk menjadi pemain.  Hidup anda dan diri anda sendiri terlalu berharga bila anda hanya menjadi korban permainan.  Jadilah pemain. 

Buat orang-orang di sekitar anda untuk menjadi pemain juga.  Jangan buat mereka menjadi korban permainan anda.  Bila anda melakukannya, akan datang saatnya ketika anda yang menjadi korban.  Tidak ada yang lebih tragis dari seorang pemain yang mengira dirinya pemain, padahal ia adalah korban.  Korban siapa? Korban permainannya sendiri. 


HIDUP YANG TERANG DAN MENERANGI


Kualitas Paling Layak bagi Setiap Manusia

Lingkupi diri dengan ketakutan, dan hidup lah dalam keamanan

Lingkupi diri dengan kekuatan, dan hiduplah dalam kebebasan

Lingkupi diri dengan cinta, dan hiduplah dalam kebaikan.

Lingkupi diri dengan cahaya, dan hiduplah dalam terang yang menerangi. 

Siapa tokoh yang anda jadi pengagumnya?  Siapapun beliau, saya yakin sosoknya adalah sosok luar biasa yang telah berhasil menjadi teladan bagi banyak sekali orang.  Sang tokoh ini, pastilah memberikan manfaat besar bagi hidup dan kehidupan banyak orang.  Baik ketika beliau masih hidup, ataupun ketika beliau telah tiada.  Jadilah ia manusia abadi dalam makna yang hakiki.

Bagaimana beliau-beliau itu melakukannya?

Maka tahapan kehidupan mereka sangat layak untuk kita amati, teliti dan teladani.  Pembelajaran saya tentang jalan kehidupan mereka menemukan empat tahap kehidupan.  Tahap pertama adalah hidup yang aman.  Tahap kedua adalah hidup yang bebas.  Tahap ketiga hidup yang baik.  Dan tahap keempat hidup yang terang dan menerangi.

Tahap pertama – hidup yang aman – adalah tahap paling rendah.  Di hidup ini, kita memang aman.  Aman secara finansial, fisik, sosial, emosional bahkan spiritual.  Aman secara finansial kita dapat dari pekerjaan atau bisnis yang bagus.  Pendapatan kita bagus bahkan terus meningkat.  Secara fisik kita sehat.  Terlindung dalam tempat tinggal yang baik.  Kalaupun sakit, kekuatan finansial kita bisa menanggulanginya.  Secara sosial, kita disenangi teman-teman, tetangga, rekan kerja / bisnis.  Siapapun yang mengenal kita akan menyebut kita sebagai orang baik.  Secara emosional, kita bisa mengendalikan emosi dengan baik.  Bila pun situasi membuat kita marah, maka ada orang yang bisa kita marahi dan tidak melawan.  Kekecewaan kita benar-benar diperhatikan orang lain.  Secara spiritual, kita beribadah dengan patuh.

Lalu apa ada yang salah dengan hidup yang aman seperti itu?  Bukankah itu keinginan banyak orang?  Tentu tidak salah.  Hanya tidak layak saja.  Kenapa?  Karena semua hal-hal yang mengamankan itu berasal dari ketakutan.  Kita mengamankan finansial, karena takut menderita.  Kita berolahraga karena takut sakit.  Kita baik pada lingkungan, karena takut dimusuhi dan seterusnya.  Maka sesuatu yang didapat berdasar ketakutan, kita pun akan terus dilanda ketakutan kehilangan hal-hal itu.  Maka jadilah kita manusia yang takut kehilangan harta.  Takut tua dan sakit.  Takut dimusuhi.  Takut gagal dan kecewa.  Takut dosa. Dan sebagainya.  Hal ini tidak salah.  Hanya tidak layak untuk manusia semulia kita.  Kita layak atas hidup yang lebih baik dari itu.

Nah, hidup yang lebih baik dari hidup aman adalah hidup bebas.  Bebas dari apa?  Bebas dari segala macam ketakutan.  Bebas dari semua belenggu material.  Apa hebatnya?  Hebatnya adalah anda bisa menikmati apapun yang ada pada anda.  Misalnya uang.  Bila anda punya uang, tapi takut hilang, maka anda tidak bisa benar-benar menikmati uang itu.  Uang yang anda takuti kehilangannya, justru akan memenjara anda.  Anda dilemahkan oleh ketakutan anda sendiri.   Dan ketika anda terlepas dari ketakutan itu, maka anda mengambil alih kekuatan dari ketakutan anda.  Maka jadilah anda pribadi yang kuat.  Kekuatan itu yang membuat anda dapat hidup dalam kebebasan.

Kebebasan itu sangat berharga.  Bangsa Indonesia rela mengorbankan harta, keluarga, tenaga, pikiran bahkan jiwa untuk kebebasan itu.  Karena perjuangan para pahlawan itu lah kita menjadi bangsa yang  merdeka.  Bebas dari penjajahan bangsa lain.  Kebebasan adalah prasyarat kemajuan.  Tak ada kemajuan tanpa kebebasan.  Demikian juga dengan kita secara personal.  Kemajuan dalam kualitas diri kita hanya bisa dimulai bila kita telah kuat dan bebas.  Kualitas yang dimaksud bukan kualitas hal-hal material.  Tapi  adalah kualitas jiwa.  Kualitas kesadaran kita.

Kekuatan menghasilkan kebebasan.  Tapi kebebasan pun bisa kebablasan.  Itu sebab kebebasan itu harus dibatasi.  Kebebasan yang tak terbatas hanya akan mengarah pada keburukan.  Apa batasnya?  Batasnya adalah kebaikan.  Dan sesungguhnya hanya dalam batas kebaikan lah kita bisa benar-benar hidup bebas.  Maka kebebasan yang dibatasi kebaikan akan menimbulkan cinta.  Cinta ini kekuatan yang mengarah hanya pada kebaikan.  Hidup kita menjadi hidup yang baik.  Hidup yang terlepas dari segala ketakutan.  Hidup yang tak terikat oleh materi.  Hidup yang bermanfaat bagi banyak orang.

Hidup baik penuh cinta adalah pintu gerbang bagi hidup yang terang dan menerangi.  Ketika hidup kita hanya untuk kebaikan, maka kita menjadi pribadi yang bercahaya.  Cahaya kita bukan hanya menerangi jalan kita, tapi juga menerangi dan menunjukkan jalan bagi sesama.  Kenapa?  Karena bila kita tak punya cahaya, kita tak bisa menerangi orang lain.  Bila cahaya yang kita miliki tidak terang, maka jalan kita pun remang-remang.  Karenanya kita butuh cahaya yang terang benderang. Cahaya yang menerangi hidup dan kehidupan banyak orang, bukan hanya ketika kita hidup, tapi juga ketika kita telah tiada.  Apakah cahaya itu?  Cahaya itu punya tiga nama.  Pertama,  kekuatan yang membebaskan.  Kedua, cinta yang membaikkan hidup kita.  Ketiga, solusi yang memperbaiki kehidupan.  Perkataan dan tindakan kita menjadi solusi bagi masalah-masalah banyak orang.

Maka jadilah kita pribadi yang sama dengan tokoh-tokoh yang kita kagumi.

GEMPA?! SYUKURILAH...


Refleksi dari Peristiwa Gempa

"Barusan katanya ada gempa di Jakarta ya, Liz?!?!”
Vitri bertanya pada saya sekitar jam 5 kurang sore ini, 16 Oktober 2009.

Heh? Oh ya… Jujur saya tidak merasakannya.
Saya pun bercanda mengatakan mungkin karena bobot tubuh saya yang cukup berat jadi menancap erat dengan gravitasi bumi.
Lalu saya berjalan ke loker, mengambil tas & mengeluarkan handphone saya.

Hal ritual yang saya selalu lakukan sebelum beranjak mandi membersihkan diri selepas berolahraga hanya untuk mengecek apakah ada missed call atau sms yang masuk sebelumnya.

Ternyata memang ada beberapa sms masuk & isinya memberitakan hal yang sama yang telah diberitakan oleh Vitri kepada saya.

Ada gempa lagi di bumi Indonesia.

Kali ini gempa berkekuatan 6,4SR terjadi sekitar jam stgh 5 sore, di sebelah barat Ujung Kulon, Banten. Dimana getarannya terasa hingga ke Jakarta, Bandung, Bogor dan bahkan Sukabumi.

Beberapa sms yang masuk berisi berita bahwa jalan-jalan protokol di Jakarta menjadi macet total karena kepanikan masyarakat akan gempa yang baru saja terjadi.
Semua berbondong-bondong pulang dan berusaha lari dari bahaya yang dirasa dapat mengancam jiwanya.
Sms lain ada yang berisi kekhawatiran mereka akan rentetan gempa yang tampaknya sedang terus terjadi di negara tercinta ini.

Hampir semua bernada kecemasan, kekhawatiran, ketakutan dan hal-hal serupa lainnya.

Saya pun lalu mulai berpikir, apa iya ya semua rentetan gempa dan beragam kejadian alam ini harus disikapi dengan perasaan-perasaan demikian.

Jujur yang terucap pertama kali dari mulut saya ketika mendengar ada gempa lagi adalah, “Alhamdulillah…”

Aneh mungkin bagi yang mendengar.
Tetapi saya yakin ini semua merupakan bagian dari rencana yang sudah disusun dengan sangat sempurna oleh Tuhan.
Saya yakin pula tidak ada yang tidak berguna dalam setiap hal yang terjadi dan tidak ada satu kejadian pun yang hanya menimbulkan efek kesusahan bagi yang mengalaminya.

Kalau kita bisa menerima, menikmati dan mengucap syukur akan gunung yang indah, akan pantai yang menenangkan, akan segarnya daun dengan setetes embun di ujung daun tersebut di pagi hari, akan aliran sungai yang menghanyutkan, akan deretan pohon hijau, akan danau luas terbentang yang begitu luar biasa, maka kenapa kita tidak bisa menerima, menikmati dan mengucap syukur juga akan letusan gunung api, akan gempa bumi, atau bahkan akan tsunami??

Kalau kita mau dengan rela menerima segala kenikmatan dan kesenangan dari Sang Khalik, kenapa ya susah sekali bagi kita untuk menerima juga segala ‘kesulitan’ dan 'kesedihan' yang sebenarnya merupakan satu paket komplit dari Dia.

Hidup ini kan seperti koin bukan?
Kalau kita bisa menerima satu sisinya, kenapa sisi lain kita lupakan & bahkan emoh untuk dilihat?
Apa sih sebenarnya yang ditakutkan?
Kehilangan?
Keterpisahan?
Kecacatan?
Atau bahkan kematian?

Jika demikian adanya mungkin perlu ditelaah lagi, esensi dasar diri kita.
Buat saya pribadi, (dan ini keyakinan saya yang hanya ingin saya bagi tanpa perlu Anda terima), segala hal yang saya miliki adalah pinjaman.
Barang-barang materi yang saya miliki adalah pinjaman.
Karir yang saya miliki adalah pinjaman.
Keluarga yang saya miliki adalah pinjaman.
Anak yang saya miliki adalah pinjaman.

Bahkan tubuh saya ini juga tentunya hanya pinjaman semata.
Hanya seonggok daging, tulang dan organ tubuh yang dipinjamkan kepada saya sehingga jiwa saya dapat belajar di muka bumi ini.

Kalau tidak ada tubuh ini, bagaimana jiwa saya dapat belajar dan berkembang?

Jiwa saya membutuhkan tubuh, sehingga saya dapat belajar berjalan, makan, minum, berbagi, merasa sakit akan luka, berlari, tertawa, menangis dan beragam hal duniawi lainnya.

Jiwa saya yang ingin belajar ini pun lalu diberikan pinjaman tubuh oleh Dia.

Lalu sejak pertama kali menghirup udara di muka bumi ini hingga saat ini, banyak sekali tambahan-tambahan pinjaman yang sudah diberikan oleh-Nya kepada saya.

Tidak hanya dalam bentuk fisik dan materi, namun juga dalam kehadiran orang-orang lain dalam hidup saya.

Kapan pun Dia merasa waktu pinjaman sudah selesai, ya tentunya pinjaman-pinjaman tersebut pun diambil kembali oleh-Nya.

Esensi dasar saya, hanya jiwa saya.
Hal-hal lain buat saya murni pinjaman, bonus dan sebuah kemewahan yang diberikan oleh-Nya kepada saya untuk dinikmati dalam rentang waktu tertentu.

Jadi kenapa kita harus menakutkan kehilangan sesuatu yang dari awal memang sudah bukan milik kita?

Mungkin akan ada yang mengatakan bahwa saya bicara demikian karena belum pernah benar-benar merasakan akibat dari gempa.

Benar juga sih, mungkin saja demikian.
Saya memang tidak pernah secara langsung mengalami gempa dengan kekuatan hantam yang besar beserta segala akibatnya.

Tetapi, jika saya kembali diingatkan betapa semua ini sebagai bagian dari sebuah rencana yang sudah pasti disusun secara sempurna oleh-Nya, maka rasanya saya pribadi malah semakin dapat melepaskan ketakutan-ketakutan yang ada.

Tidak ada yang positif dan tidak ada yang negatif bagi saya.
Positif dan negatif itu kan hanya label yang kita berikan untuk hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita dan sifatnya subyektif sekali.

Sama seperti label ‘musibah’ yang kita berikan pada kejadian-kejadian alam belakangan ini.
Bagaimana kalau ternyata ini bukan musibah, namun sebuah anugerah terselubung?
Ketika gunung meletus, mengeluarkan lava panasnya dan membuat banyak ‘kesusahan’ bagi lingkungan sekitarnya, pada saat itu mungkin tidak ada yang dapat melihatnya sebagai suatu anugerah.

Semua mengeluh, semua meratap dan semua berpikir betapa Tuhan kejam atau sedang marah kepada umat-Nya.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, anugerah itu pun terwujud dengan suburnya tanah yang dilewati lava akibat mineral lava yang berintegrasi dengan mineral tanah yang dilaluinya ketika itu.

Oleh karena itulah, saya sudah berhenti mengatakan rentetan fenomena alam ini sebagai musibah.
Jika ingin melabel pun, saya hanya menyebutnya sebagai insiden alam yang mungkin memang harus terjadi sehingga sebuah anugerah nantinya dapat dinikmati.

Dan ketika sekarang tinggi benar gunungan komentar, baik secara langsung maupun lewat forward-an sms & email, yang mengatakan bahwa Tuhan sedang marah sekali dengan umat-Nya saat ini, bagi saya justru kebalikannya.

Tuhan dengan cinta kasih-Nya yang tanpa syarat sedang melimpahkan anugerah kepada kita dengan cara-Nya sendiri.
Cara yang mungkin bagi kita saat ini, akibat kertebatasan lingkup pandang kita, masih sulit untuk dilihat letak kenikmatannya.

Tetapi saya yakin pada waktu yang paling tepat nanti (dan semua memang selalu terjadi pada waktunya yang paling tepat), semua anugerah & hikmah akan rentetan insiden alam ini dapat disyukuri serta dinikmati oleh segenap makhluk hidup.

Gempa hari ini?
Alhamdulillah…..
Terima kasih, Tuhan.

EGO vs NURANI


Perangan Tiada Henti

Saudara, kita setiap hari butuh makan dan minum.  Iya, kan?  Bila kebutuhan ini tak terpenuhi, maka penyakit akan datang.  Sehat akan didapat bila kebutuhan ini dipenuhi sampai cukup.  Bagaimana bila berlebih?  Penyakit akan datang juga.  Tidak seketika, tapi pasti.

Kenapa kita melakukan hal yang buruk bagi diri kita sendiri?  Karena hal buruk itu mendatangkan kenikmatan.  Makan berlebih menimbulkan kenikmatan.  Tidur,  belanja, nonton TV yang berlebih juga demikian.  Kenikmatan adalah sesuatu yang kita cari.  Maka kita mencarinya dari segala sesuatu, termasuk yang buruk bagi kita sekalipun.

Mari bertanya kenapa sekali lagi : “Kenapa kita melakukannya?”

Saya menemukan sebabnya.  Anda juga kemungkinan besar telah tahu.  Dalam diri kita ada ego.  Sang ego lah yang menjadi sumbernya.  Ego lah yang terus mendorong kita untuk mendapatkan kenikmatan.

Dalam diri kita pun ada nurani.  Ego dan nurani semacam pasangan.  Dua-duanya punya tujuan yang sama.  Sama-sama mendorong agar kita agar mendapat kenikmatan.  Bedanya, ego cuma suka pada kenikmatan sesaat.  Sedang nurani suka pada kenikmatan jangka panjang.

Ego dan nurani memberikan akibat bila dituruti.  Menuruti ego membuat kita mendapat kenikmatan sesaat dan penderitaan jangka panjang.  Menuruti nurani membuat kita mendapat kenikmatan jangka panjang dan penderitaan sesaat.  Nurani menuntun kita agar bertindak cukup dan sesuai dengan kebutuhan.  Ego menuntun kita agar bertindak berlebihan dan memaksimalkan kenikmatan sesaat.

Contohnya makan.  Makan menuruti nurani adalah makan yang cukup.  Tidak berlebih, dan sehat.  Maka perut akan diisi sepertiga makanan, sepertiga minuman,  sepertiga udara.  Makan menuruti ego membuat kita makan dan minum sampai penuh.  Tanpa menyisakan ruang untuk udara.  Akibatnya, proses metabolism makanan tidak optimal.  Banyak makanan yang terbuang atau disimpan tubuh sebagai lemak.  Maka kelebihan berat badan akan terjadi.

Nah, makan menuruti nurani mendatangkan penderitaan sesaat.  Kita masih ingin makan, makanannya pun ada.  Maka ketika makan itu dihentikan, kita pun menderita.  Iya, kan?

Itu contoh yang berkaitan dengan fisik.  Bagaimana dengan contoh yang berkaitan dengan emosi?  Sama saja.  Emosi yang menuruti ego akan menimbulkan kenikmatan dan solusi sesaat, juga penderitaan dan masalah jangka panjang.  Misalnya anak anda yang berusia empat tahun salah.  Main tanah padahal sudah mandi misalnya.  Anda memarahinya.  Maka sang anak akan berhenti main tanah, lalu membersihkan diri dan pakaiannya.  Anda puas dan masalah pun selesai.

Benarkah?

Tidak!  Anak anda berhenti main tanah memang iya.  Inilah solusi sesaat.  Anda pun yakin bahwa kesalahan anak anda bisa terus diselesaikan dengan cara ini.  Anda mengulanginya berulang-ulang.  Setiap hari.  Setiap kali anak anda membuat kesalahan.  Karena anda menggunakan marah, maka anda sebenarnya sedang membangun masalah jangka panjang.  Anak anda menuruti anda, hanya karena ia masih kecil dan tak punya kekuatan.  Padahal hatinya terluka.  Maka makin ia besar dan kuat, masalah jangka panjang ini akan mulai timbul.  Apa itu?  Bisa anak yang jadi pemberontak atau penakut.

Marah adalah emosi yang menuruti ego.  Prosesnya diawali dari kekesalan karena ada kejadian yang tak sesuai dengan keinginan atau standar anda.  Kesal adalah emosi yang masih internal.  Tapi begitu kesal ini ditambahi ego, maka muncullah marah.  Marah adalah emosi eksternal.  Emosi yang keluar dari diri anda.  Diekspresikan dengan kata-kata atau perbuatan.

Kesal yang sama sebenarnya tidak harus menjadi marah.  Ia bisa menjadi sabar.  Sabar adalah kesal yang kemudian ditambahi nurani.  Nurani bisa membuat kita bertahan atas penderitaan kesal.  Membuat penderitaan kesal itu menjadi sesaat.  Maka dalam kasus anak tadi, anda bisa bersabar bahkan kreatif mencari cara yang membuat anak anda berhenti main tanah, tanpa melukai hati sang anak. Bahkan membuat anak anda tetap bergembira.

Sedih adalah juga emosi.  Ketika sesuatu atau seseorang yang kita sayangi hilang, maka timbullah kesedihan.  Kesedihan ini bisa berkepanjangan atau cepat berlalu.  Apa yang jadi sebab?  Sedih berkepanjangan disebabkan ego yang menguasai diri.  Sedih yang cepat berlalu disebabkan nurani yang mengendalikan.

Misalnya anda ditinggal kekasih yang sangat anda cintai.  Ego anda akan mendorong anda untuk berpikir: “Dia tidak seharusnya melakukan itu.  Saya kan mencintainya.  Kenapa ia meninggalkan saya?  Saya sudah begitu baik padanya.  Saya tidak terima diperlakukan seperti ini.”  Nah, semua pikiran itu membuat kesedihan anda makin memuncak.  Bila sudah begini, maka sedih akan berubah menjadi benci bahkan dendam.  Benci bertolak belakang dengan cinta.  Dendam adalah lawan kedamaian.   Dengan benci dan dendam anda bisa melakuan hal-hal yang buruk pada orang yang tadinya anda cintai.

Apa yang terjadi bila nurani yang anda turuti?  Maka nurani akan berbisik: “Saya mencintainya.  Ia meninggalkan saya, berarti itu yang terbaik untuknya menurut dirinya.  Saya tahu apa yang terbaik untuk saya, menurut saya sendiri.  Saya akan menerima kejadian ini.  Saya belajar banyak.  Saya akan melakukan yang terbaik untuknya”  Nah, sedih itu justru mendorong anda untuk menerima kejadian itu.  Bahkan memaafkan.  Baik memaafkan kekasih anda, atau memaafkan diri anda sendiri.  Tak ada benci.  Tak ada dendam.  Anda pun bisa melanjutkan hidup dengan damai.  Kesedihan anda sangat cepat berlalu.  Bukan tidak mungkin, anda akan berterima kasih pada kekasih anda atas segala kebaikannya meskipun sekarang  ia telah meninggalkan anda.  Wow,… itulah hebatnya nurani.

Jadi, ketika ada kejadian negatif, anda otomatis merasakan emosi negatif.  Tapi emosi negatif ini masih internal sifatnya.  Akan menjadi emosi negatif eksternal bila anda mendengarkan dan menuruti ego anda.  Karena itu, ketika emosi negatif mulai timbul, dengarkan dan ikuti kata nurani.  Maka anda akan tertuntun selalu pada kebaikan.  Bila sudah begini, kejadian negatif apapun  tidak akan bisa membuat anda beremosi negatif, berkata-kata negatif, apalagi bertindak negatif.   Maka jadilah anda pribadi yang kuat.  Kuat yang sejati…

Sabtu, 14 April 2012

BERSYUKUR: MELEPASKAN KEKUATAN TERSEMBUNYI

Menyadari Kekuatan Syukur untuk Menggapai Sukses

Bersyukur (gratitude) diajarkan di hampir semua agama. Tapi sebetulnya apa sih bersyukur itu dan kekuatan apa yang ada didalamnya?

Bersyukur menyimpan kekuatan penuh untuk merealisasikan mimpi menjadi kenyataan. Bersyukur seperti lem yang merekatkan hukum-hukum universal seperti hukum atraksi, kelimpahan, relativitas, polaritas, balas jasa, dll.

You cannot know what is without knowing what is not.

Kasih (love) dan Ketakutan (fear)  berada dalam spektrum yang sama tapi memiliki polaritas yang berbeda. Kita tidak bisa mengalami apa itu kasih tanpa mengetahui bagaimana rasanya ketakutan.

Misalnya, Anda senang berada dekat-dekat pasangan Anda dan benci kalau harus terpisah dari dia. Disini sebetulnya Anda berinteraksi dengan esensi yang sama, yaitu pasangan Anda. Tapi ada perasaan yang berbeda yang disebabkan oleh momen kehadiran (presence) dan ketidakhadiran (absence) pasangan Anda.

Ketika Anda bersyukur untuk kedua momen itu dan menyadari bahwa keterpisahan hanyalah relativitas, Anda terbebas dari pengalaman yang bisa menyebabkan Anda merasa khawatir, cemburu, lonely, dsb dimana semua itu berafiliasi dengan energi ketakutan (fear).

Hal ini tidak bisa dijelaskan secara logis, tetapi ada pergeseran yang signifikan dalam pikiran (mind) dan jiwa (soul) Anda. Anda bisa rasakan perubahan energi yang terjadi. Ada transmutasi energi disana melalui genuine act untuk mensyukuri segala sesuatu, bahkan apa-apa yang kita tidak suka.

Bersyukur mempercepat pertumbuhan dan sukses. Bahkan bekerja sekeras apapun tanpa dilengkapi dengan rasa syukur hanya akan membawa Anda ke perasaan kekurangan, stress, rendah diri, dll.

Rahasia uang dan sukses terletak disini. Hukum kelimpahan (law of abudance) bekerja dengan kekuatan bersyukur.

Kita tidak bisa memiliki apa yang kita inginkan karena keinginan merupakan pernyataan kekurangan.

Kita selalu memperoleh apa yang kita ciptakan karena pikiran kita kreatif dan kita mempunyai otoritas penuh untuk membuat realitas apapun yang kita pilih. Berdoa, dalam semangat kreatifitas, adalah pernyataan rasa syukur bahwa kita sudah memiliki semua yang kita perlukan. Bukan merupakan pernyataan kekurangan. Berpikir dari dimensi kekurangan akan membuat diri kita selalu merasa kurang, sebanyak apapun uang yang kita miliki tetap saja tidak cukup untuk membuat kita bahagia.

Mensyukuri bahwa uang selalu cukup dan sukses sudah kita miliki SEKARANG akan melepaskan kita dari rasa kekurangan. Disini kita menciptakan realitas baru dan secara sadar pemikiran-pemikiran kreatif akan timbul dengan sendirinya. Dari situ kita mengambil pilihan-pilihan terbaik untuk membuat hidup (make a life), bukan menyambung hidup (make a living).

Bersyukur membebaskan Anda dari ketergantungan terhadap hasil akhir (outcome). Anda tidak bisa terbebas dari suatu kondisi secara permanen kecuali Anda menghargai setiap momen yang terjadi disana. Seburuk apapun suatu kondisi, selalu ada berkah yang bisa kita ambil. Berkah ini adalah hadiah (gift) dari yang Maha Kuasa.

Bersyukur adalah tindakan sadar untuk mengambil hadiah itu dan dari situ Anda memperoleh pembelajaran untuk masa depan yang lebih baik.

BERSERAH DIRI: SAINS ATAU CUMA SEKEDAR DOGMA?

Diam Sejenak untuk Menerima Inspirasi

Berserah diri seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Tapi seringkali kita menerima pencerahan saat kita tidak berpikir.

Saat dihadapkan pada masalah biasanya kita berusaha sekuat tenaga mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Apa yang terjadi? Seringnya kita justru tidak bisa melupakan masalah dan tenggelam pada ketidakberdayaan. Ada teman yang bilang: "Kemana pun saya pergi, masalah selalu mengikuti saya"

Albert Einstein pernah mengatakan, "Kita tidak bisa memecahkan masalah menggunakan pola pikir lama yang menciptakan masalah itu" Artinya kita ingin berhenti berpikir dan diam sesaat untuk "melupakan" masalah. Lantas kita mengizinkan diri kita untuk melihat permasalahan ini dari paradigma yang baru.

Dalam ajaran agama kita mengenal berserah diri atau ikhlas. Saat dihadapkan pada tantangan hidup rasanya banyak dari kita yang kesulitan menerapkan ikhlas ini. Ada yang bilang, "Ya sudah...ikhlaskan saja" Tapi apa benar Anda betul-betul ikhlas? Apa justru memendam kekesalan yang dikemudian hari bisa meledak?

Menurut sains fisika kuantum, isi alam semesta ini 99,9999% kosong. Hanya 0,0001% benda, termasuk manusia, bumi, planet, galaksi, dll. Para ilmuwan menemukan bahwa ruang kosong ini sebetulnya tidaklah kosong, namun mengandung potensi yang tak terhingga. Potensi ini yang kemudian menjadi manifestasi dalam bentuk materi dan keadaan, termasuk manusia dan kehidupannya.

Saat Anda cemas karena dihadapkan pada sebuah masalah. Berserah diri merupakan tindakan bijaksana untuk melepaskan kemelakatan dan mengakses potensi 99,9999% yang ada di alam semesta ini. Caranya dengan diam sejenak dan menghilangkan semua pikiran Anda tentang masalah itu. Ajukan pertanyaan pada diri Anda, "Apa rasanya seandainya saya tidak punya masalah?" Jangan dipikirkan jawabannya. Rasakan dan alihkan perhatian Anda ke pusat hati.

Di pusat hati ini Anda rasakan bagaimana hidup Anda tanpa masalah. Lantas barangkali hati Anda berbicara. Atau Anda merasakan sesuatu. Serahkan apapun yang muncul pada Yang Maha Kuasa yang bekerja melalui potensi kuantum. Seringkali Anda menemukan jawaban atas permasalahan yang Anda hadapi. Moment of englightenment, kata orang.

BERBAHAGIALAH... BERSEDIHLAH...

karena keduanya adalah anugerah Tuhan

Saudara, hidup manusia di dunia ini dibentuk oleh dualitas.  Semuanya berpasangan.  Siang – malam.  Laki-laki – perempuan.  Tua – muda.  Baik – buruk.  Kuat – lemah.  Kaya – miskin.  Sukses – gagal. Dan sebagainya.

Menurut saya, semua dualitas ini adalah anugerah Yang Maha Kuasa.  Anugerah berarti sesuatu yang nilainya luar biasa tingginya.  Dahsyat. Hebat. Dan ia berasal dari Yang Maha Kuasa lagi.  Maka terhormatlah kita manusia yang diperkenankan-NYa untuk menerima anugerah tersebut.

Bila anda diberi sebuah pensil oleh artis idola anda, bagaimana perasaan anda?  Senang luar biasa kan?  Padahal hanya pensil biasa yang diberinya itu.  Nah, ini anugerah yang hebat dari Yang Maha Hebat.  Maka sungguh tercela bila kita menganggap hidup ini sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.

Kebahagiaan dan kesedihan adalah dualitas.  Ia anugerah Yang Maha Kuasa.  Karenanya, kita harus menerimanya dengan sikap terbaik.  Kita bahkan harus mencari keduanya itu.  Kita harus mencari kebahagiaan.  Kita juga harus mencari kesedihan. Ingat, keduanya anugerah Yang Maha Kuasa.  Keduanya akan memberikan warna yang indah bagi hidup kita.  Jangan hanya mencari kebahagiaan dan menghindari kesedihan.  Anda akan rugi, bahkan celaka karena  kehilangan satu sisi anugerah yang luar biasa!!!

Apa sumber kebahagiaan?  Saya memilih lima hal, yaitu:

   1. Bersyukur (atas semua hal positif yang ada)
   2. Bersabar (atas semua hal positif yang tak ada)
   3. Melepas beban kepedihan dan ketakutan (memaafkan dan menyerahkan urusan pada Tuhan)
   4. Berbuat baik (pada diri sendiri dan orang lain)
   5. Kondisi baik yang ada pada orang lain (berbahagialah atas kebahagiaan orang lain)

Karenanya jangan mencari kebahagiaan dari kekayaan, popularitas, jabatan tinggi, istri yang cantik / suami yang ganteng.  Semua itu tak akan membuat anda bahagia, bila salah satu saja dari ke lima hal diatas tak dilakukan.

Apa sumber kesedihan?  Saya juga memilih lima hal, yaitu:

   1. Perbuatan dosa (maka bertaubatlah)
   2. Melewatkan kesempatan (maka jadilah achiever)
   3. Lupa (maka teruslah sadar)
   4. Kesusahan orang lain (maka jadilah solusi tuk mereka)
   5. Ketidakadilan (maka berjuanglah demi keadilan)

Bila salah satu saja dari kelima hal di atas tidak membuat anda bersedih, anda harus benar-benar instospeksi diri.  Periksa jiwa dan pikiran anda mengapa sampai membuat perasaan anda seburuk itu.

Keharusan kita dalam anugerah hidup ini adalah meningkatkan kualitas diri terus menerus.  Membuat hari ini lebih baik dari kemarin.  Membuat esok lebih baik dari hari ini.  Caranya bagaimana?  Dengan menjadikan kebahagiaan dan kesedihan sebagai dasar untuk melakukan keharusan (tindakan benar) .  Tindakan benar itu menghasilkan kebahagiaan dan kesedihan di tingkat yang lebih tinggi.

Apa nanti tidak bingung, suatu saat bahagia, eh… terus bersedih?  Maka kuncinya adalah CUKUP.  Berbahagialah yang cukup.  Jangan berlebihan.  Juga bersedihlah yang cukup.  Jangan melampaui batas.  Lalu apa batasnya?  Batasnya adalah rasa semangat untuk bertindak benar.  Maka jadikan bertindak benar sebagai muara kebahagiaan dan kesedihan.

Nah saudara, berbahagialah…

Dan bersedihlah…

Nikmati dan alami kedua anugerah tersebut.

Kamis, 12 April 2012

APAKAH ANDA SADAR ATAS KEKUASAAN YANG ANDA MILIKI?

Hubungan antara Kesadaran dan Kekuasaan

 Ada pepatah klasik yang menyatakan bahwa anda sendirilah yang dapat merubah nasib anda masing-masing. Hampir semua dari kita ingin menjalani kehidupan yang lebih baik dan mendapatkan pengalaman hidup yang lebih baik. Hidup yang baik secara duniawi dan spiritual merupakan tujuan dari sebagian besar kita. Menjalani kehidupan yang bermakna, bertujuan, harmonis dan menguntungkan sesama, merupakan hal-hal tertinggi yang ingin kita laksanakan. Siapakah yang dapat merubah untuk mencapai kehidupan yang demikian?

 Tentu saja diri kita masing-masing. Anda sendiri yang dapat merubah kehidupan anda. Dan anda mempunyai kuasa untuk melakukan itu. Seperti yang banyak didengungkan oleh motivator-motivator terkenal, mereka selalu menekankan bahwa kekuatan terletak dalam diri anda sendiri. Buku-buku Anthony Robbins seperti Unlimited Power dan Awaken the Giant Within, isinya sebagian besar memberikan informasi mengenai bagaimana membangkitkan kekuatan yang ada dalam diri kita masing-masing.

 Tetapi bagaimana anda dan saya dapat memaksimalkan kekuatan itu? Apakah kita berkuasa memaksimalkannya?

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah sadar atas kekuatan itu, sadar atas kekuasaan yang kita miliki.

Membicarakan kekuasaan berarti juga membicara kesadaran.

Apa hubungannya?
Sadar akan apakah agar anda berkuasa?
Berkuasa atas apa?
Kuasa yang dimaksud disini adalah kuasa atas realitas yang anda alami dan hadapi setiap harinya. Kuasa pada diri anda atas apa yang sedang anda alami.

Kuasa atas diri anda masing-masing, mempunyai ketergantungan dan kondisi. Tidak begitu saja anda dapat menggunakan kuasa yang ada pada diri anda. Bila anda kurang mengenal dan menggunakan kuasa ini secara terbatas,  maka kuasa yang anda milikupun terbatas dan tentu saja sebaliknya demikian pula.

Dalam proses pengembangan diri, anda harus mengetahui rahasia dari kuasa ini.

Rahasianya adalah bahwa :

“Kuasa yang anda miliki dapat anda optimalkan penggunaanya bila anda mengenal dan sadar akan kuasa itu sendiri”.

Pengenalan atau kesadaran anda akan kuasa yang anda masing-masing miliki, yang akan dapat merubah realitas kehidupan anda sehari-hari. Pengembangan diri anda akan semakin utuh dengan mempunyai kesadaran akan kuasa yang anda miliki.

Realitas kehidupan anda adalah cermin dari dalam diri anda masing-masing. Anda dan semua kita saling berhubungan dan semua kita adalah bagian dari sebuah energi yang tanpa batas, yang bersumber dari yang Maha Kuasa. Kita masing-masing merupakan saluran dari energi yang tanpa batas ini. Saluran berbeda ini yang membedakan masing-masing diri kita.

Kesadaran akan hal ini, akan memberikan kuasa yang lebih pada anda untuk pengembangan diri anda.

Bagaimana cara memperoleh kesadaran ini?

Kesadaran ini anda peroleh dengan cara berpikir. Dengan pemikiran ilmiah yang benar, yang selaras dengan alam semesta dan hukumnya, dengan memahami secara pasti dan sempurna, semua prinsip-prinsip kuasa kombinasi dan metode pikiran.

Menjadi sadar bahwa kehadiran yang ada dimana-mana dari  yang Maha Kuasa, membuat kita mengenal arti kuasa itu sendiri. Kesadaran akan adanya kuasa dimana mana membuat kita sadar. Menjadi sadar akan kesatuan diri kita dengan sang sumber dari semua kuasa akan memberikan kekuataan penuh atas kuasa itu untuk diri sendiri.

Kemampuan anda berpikir, memberikan anda jalan untuk berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Memberikan anda kemampuan untuk berhubungan dan menggunakan energi tanpa batas dari Yang Maha Kuasa. Apa yang anda pikirkan merupakan apa yang diproduksi dalam realita kehidupan anda saat ini.

Anda mempunyai kuasa untuk itu. Dan ini bekerja dari sikap mental utama anda dan ini membutuhkan kesadaran akan kekuatan hukum ini.

Saat anda mensyukuri apapun yang anda sedang alami saat ini, merupakan langkah awal dari menyadari kuasa yang anda miliki. Dengan bersyukur anda mengakui dan mengumumkan pengakuan anda atas kesadaran akan kuasa yang anda miliki.

Anda yang mempunyai kuasa harus menggunakan kuasa yang anda miliki untuk tujuan yang sesuai dengan kuasa yang diberikan kepada anda masing-masing….

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More